Kendaraan listrik memiliki rentang suhu ideal yang terbatas agar dapat beroperasi secara efisien. Rentang suhu terbaik untuk kendaraan listrik bergantung pada jenis bahan kimia dalam paket baterai lithium-ion, biasanya antara 68°F dan 77°F (20°C hingga 25°C). Ketika suhu di luar rentang ini, efisiensi kendaraan listrik dapat menurun drastis, memengaruhi jarak tempuh yang dapat dicapai.
Untuk menguji pengaruh suhu tinggi terhadap kendaraan listrik, What Car? melakukan percobaan dengan membawa tiga mobil listrik berbeda ke Spanyol Selatan, daerah dengan suhu ekstrem di Eropa. Mobil pertama adalah Citroen e-C3 dengan baterai 44 kWh, diikuti oleh Kia EV3 dengan baterai 81,4 kWh, dan Tesla Model 3 Long Range dual-motor dengan baterai 80 kWh. Kia dan Tesla dilengkapi dengan sistem manajemen termal cair untuk baterai.
Hasil uji coba menunjukkan bahwa ketiga mobil tidak mencapai jarak tempuh maksimum yang diiklankan saat dikemudikan pada kecepatan jalan raya dan suhu ekstrem. Efisiensi baterai yang berbeda menyebabkan penurunan jangkauan yang signifikan, dengan Citroen memiliki efisiensi terburuk dan Tesla menunjukkan penurunan jangkauan sebesar 44% dari klaim resminya.
Meskipun demikian, baik Kia maupun Tesla terbukti tidak terlalu terpengaruh oleh suhu tinggi dalam hal pengisian daya. Keduanya mengisi daya dengan cepat dan mendekati waktu yang dijanjikan untuk pengisian daya cepat. Kesimpulannya, pengujian ini mengungkapkan dampak nyata dari suhu ekstrem terhadap jangkauan kendaraan listrik.
Para jurnalis yang melakukan pengujian juga memberikan wawasan tentang dampak suhu terhadap performa kendaraan. Sebagai contoh, atap kaca penuh Tesla mempengaruhi suhu kabin yang memengaruhi efisiensi kendaraan. Pengujian ini memberikan gambaran yang jelas dan relevan tentang bagaimana suhu tinggi mempengaruhi kendaraan listrik di kondisi nyata.





