Solusi Cerdas Saat Terjebak Pinjol dalam Mencari Rumah Subsidi

by

Komisioner BP Tapera, Heru Pudyo Nugroho, mengungkapkan bahwa masih ada beberapa tantangan yang harus diatasi untuk membantu masyarakat mendapatkan rumah murah melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Salah satunya adalah masalah kelayakan atau kemampuan untuk memenuhi persyaratan program FLPP, terutama karena kuota rumah subsidi melalui skema FLPP pada tahun 2025 diperkirakan mencapai 350.000 unit, jumlah terbanyak sepanjang sejarah program.

Menurut Heru, literasi dan kemampuan finansial untuk lolos di perbankan menjadi tantangan utama bagi masyarakat yang ingin memanfaatkan program FLPP. Peningkatan pemahaman akan pentingnya menutup pinjaman online dan belanja online sebelum mengajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) juga menjadi fokus Heru dalam upaya memberikan informasi kepada masyarakat. Sementara itu, dengan adanya kuota FLPP yang besar, Heru mengakui bahwa kerjasama antara pihak bank, pengembang, dan pemerintah sangat diperlukan untuk mencapai target yang telah ditetapkan.

Heru menegaskan bahwa 41 bank penyalur dan lebih dari 7.000 pengembang telah dievaluasi secara berkala untuk memastikan kualitas layanan yang diberikan. Menyusul data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2025, backlog rumah berdasarkan kepemilikan mencapai 9,9 juta unit, dengan sebagian besar kontribusi berasal dari kelompok Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Dari kelompok ini, sekitar 60% bekerja di sektor informal, menciptakan kebutuhan mendesak akan solusi perumahan yang terjangkau bagi mereka.

Seiring dengan upaya pemerintah dan dukungan dari berbagai pihak terkait, seperti penyediaan KUR perumahan oleh Kementerian PKP, diharapkan bahwa masalah backlog rumah dan akses terhadap rumah subsidi melalui FLPP dapat menjadi lebih teratasi di masa mendatang.

Source link