Heboh! Trump, Perang & Ekonomi Lesu: Dampak Kantong Kempes

by -45 Views

Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan melambat pada tahun 2026 dibandingkan dengan tiga tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh ketidakstabilan iklim perdagangan global akibat ketegangan geopolitik dan perang dagang setelah kebijakan Presiden AS Donald Trump, serta menurunnya konsumsi masyarakat dunia.

Dalam laporan Global Economic Prospect (GEP) edisi Januari 2026, World Bank memperkirakan pertumbuhan ekonomi global hanya akan mencapai 2,6%. Angka proyeksi ini merupakan yang terendah dibanding realisasi pada 2023 dan 2024 sebesar 2,8%, dan estimasi untuk tahun 2025 sebesar 2,7%. Namun, proyeksi untuk tahun 2027 diperkirakan akan kembali naik menjadi 2,7%.

Jika proyeksi ini terjadi, Bank Dunia memprediksi bahwa dekade 2020-an akan menjadi dekade dengan pertumbuhan global terlemah sejak tahun 1960-an. Pertumbuhan ekonomi yang lambat ini diyakini akan memperbesar kesenjangan standar hidup di seluruh dunia, di mana pada akhir tahun 2025, hampir semua negara maju akan mengalami peningkatan pendapatan per kapita, sementara sekitar sepertiga negara berkembang memiliki pendapatan per kapita yang lebih rendah.

Bank Dunia mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2025 didorong oleh perubahan kebijakan tarif resiprokal Trump dan penyesuaian cepat dalam rantai pasok global. Namun, dorongan tersebut kemungkinan akan melemah pada tahun 2026 seiring dengan penurunan perdagangan dan permintaan domestik. Meskipun demikian, langkah-langkah pelonggaran finansial global dan ekspansi fiskal di beberapa negara besar dapat membantu meredam perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, Bank Dunia juga memproyeksikan penurunan inflasi global menjadi 2,6% pada tahun 2026, yang mencerminkan pelemahan pasar tenaga kerja dan penurunan harga energi. Pertumbuhan inflasi diperkirakan akan kembali meningkat pada tahun 2027 seiring dengan penyesuaian arus perdagangan dan penurunan ketidakpastian kebijakan.

Tren pertumbuhan pendapatan per kapita di negara berkembang diproyeksikan sebesar 3% pada tahun 2026, satu poin persentase di bawah rata-rata periode 2000-2019. Bank Dunia mencatat bahwa pendapatan per kapita di negara berkembang hanya akan mencapai 12% dari tingkat negara maju.

Untuk mengatasi tantangan perlambatan pertumbuhan ekonomi, Bank Dunia memandang pentingnya upaya kebijakan komprehensif dengan fokus pada tiga pilar utama. Pertama, meningkatkan modal fisik, digital, dan sumber daya manusia untuk meningkatkan produktivitas dan daya serap tenaga kerja. Kedua, meningkatkan iklim usaha melalui peningkatan kredibilitas kebijakan dan kepastian regulasi. Ketiga, menggalang modal swasta secara besar-besaran untuk mendukung investasi.

Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat mendorong terciptanya lapangan kerja yang lebih produktif dan formal, serta berkontribusi pada peningkatan pendapatan dan pengentasan kemiskinan. Negara berkembang juga perlu memperkuat keberlanjutan fiskal mereka yang selama ini terganggu oleh berbagai guncangan, peningkatan kebutuhan pembangunan, dan kenaikan biaya pembayaran utang.

Dalam upaya mencegah stagnasi dan pengangguran, Bank Dunia menyarankan pemerintah di negara berkembang dan negara maju untuk secara aktif meliberalisasi investasi swasta dan perdagangan, mengendalikan konsumsi publik, serta melakukan investasi dalam teknologi baru dan pendidikan.

Dengan demikian, meskipun proyeksi pertumbuhan ekonomi global menunjukkan perlambatan, langkah-langkah yang tepat dari berbagai pihak diharapkan dapat membantu mengatasi tantangan yang ada dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Source link