Tamparan Keras: Zelensky Blak-blakan tentang Trump

by -60 Views

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky berharap agar perundingan damai dengan Rusia yang dimediasi Amerika Serikat (AS) bisa menghasilkan pembahasan yang benar-benar berarti. Namun, dia menegaskan bahwa Ukraina sudah terlalu sering diminta untuk memberikan konsesi. Zelensky mengkritik cara Washington menangani pembicaraan damai yang dijadwalkan di Jenewa minggu depan di tengah tekanan Presiden AS Donald Trump untuk segera mengakhiri perang Rusia-Ukraina.

Zelensky menuding Moskow sengaja memperlambat proses pengambilan keputusan dengan mengganti negosiator utamanya. Pertemuan antara perwakilan dari Ukraina, Rusia, dan AS dijadwalkan di kota tepi danau di Swiss pada Selasa dan Rabu pekan depan. Pertemuan ini berlangsung di tengah upaya Presiden AS, Donald Trump, yang mendorong tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang terbesar di Eropa sejak 1945.

Dalam pidatonya di Konferensi Keamanan Munich tahunan, Zelensky mengungkapkan harapannya agar pertemuan trilateral pekan depan berjalan dengan serius, substantif, dan membawa manfaat bagi semua pihak. Namun, ia juga mengakui bahwa terkadang terasa seolah-olah masing-masing pihak membicarakan hal yang sama sekali berbeda.

Ukraina dan Rusia telah terlibat dalam dua putaran pembicaraan baru-baru ini yang ditengahi oleh Washington di Abu Dhabi, mengingat invasi Rusia dan Ukraina pada Februari 2022. Zelensky menyerukan tindakan lebih besar dari sekutu Ukraina untuk menekan Rusia agar berdamai, baik dalam bentuk sanksi yang lebih keras maupun lebih banyak pasokan senjata. Perundingan damai diharapkan dapat mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan.

Zelensky juga menyoroti bahwa pihak AS kerap membahas soal konsesi, namun terlalu sering hal itu hanya dikaitkan dengan Ukraina, bukan Rusia. Terkait perundingan, Zelensky menegaskan ia ingin mengetahui kompromi apa yang bersedia ditawarkan Moskow, mengingat Ukraina sudah banyak memberikan konsesi. Rusia saat ini menguasai sekitar 20 persen wilayah Ukraina, termasuk Semenanjung Krimea serta sebagian kawasan Donbas di wilayah timur, yang telah direbut bahkan sebelum invasi besar-besaran dilancarkan pada 2022.

Source link