Sosok Kontroversial yang Suka Ikut Campur dalam Urusan Negara Lain

by

Pemerintahan Amerika Serikat (AS) selalu menarik perhatian dalam sejumlah konflik internasional, termasuk ketegangan dengan Iran. Namun, kecenderungan AS untuk terlibat dalam urusan luar negeri bukanlah hal baru di era Presiden AS Donald Trump. Dalam sejarahnya, Amerika Serikat telah memiliki kebijakan luar negeri yang berakar dari gagasan Presiden AS ke-5, James Monroe pada tahun 1823. Doktrin Monroe, yang saat itu diajukan, menegaskan penolakan terhadap campur tangan negara-negara Eropa di wilayah Benua Amerika, sekaligus menunjukkan bahwa AS memiliki hak moral dan politik untuk membentuk lingkungan di luar wilayahnya.

Gagasan ini kemudian menjadi dasar bagi kebijakan luar negeri AS, yang diwujudkan dalam berbagai kebijakan seperti Roosevelt Corollary yang diperkenalkan oleh Presiden Theodore Roosevelt pada tahun 1901. Seiring berjalannya waktu, pembenaran intervensi AS pun berubah dari alasan kolonial hingga ideologi, seperti pembendungan komunisme selama Perang Dingin, serta isu demokrasi, stabilitas global, dan hak asasi manusia.

Setelah serangan 9/11, AS meluncurkan strategi ā€œ4-Dā€ yang membuka ruang intervensi militer lebih luas di berbagai negara seperti Afghanistan dan Irak. Tanpa adanya negara adidaya tandingan, Amerika Serikat merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga keamanan global. Terakhir, data menyebutkan bahwa AS telah melakukan sekitar 400 intervensi di berbagai negara sejak tahun 1776, dengan hampir seperempat di antaranya terjadi setelah era pasca-Perang Dingin.

Source link