Krisis AS-Iran Memuncak, China Turun Tangan

by

China Semakin Tertarik untuk Mediasi Konflik Nuklir Iran

Jakarta, CNBC Indonesia – Di tengah kebuntuan perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, China mulai dipertimbangkan untuk memainkan peran sebagai mediator utama dalam meredakan konflik nuklir Iran. Seorang filantropis dan pengusaha dekat dengan negosiator Iran, Mohamed Amersi, mengungkapkan harapan Teheran terhadap Beijing dalam menyelesaikan ketegangan.

Amersi menyebut Teheran sangat menginginkan China untuk menjadi mediator utama dan bahkan bersedia untuk menyerahkan uranium yang diperkaya tinggi miliknya kepada China. Hal ini diharapkan dapat membawa kesepakatan yang saling menguntungkan antara Iran dan AS.

Gencatan Senjata dan Kebuntuan Negosiasi

Meskipun gencatan senjata telah dicapai dalam konflik yang berdampak besar terhadap ekonomi global, perundingan antara AS dan Iran masih terhenti. Kedua pihak bertahan pada tuntutan masing-masing, yakni AS menekan Iran terkait program nuklir dan dukungan terhadap kelompok proksi, sementara Iran menuntut kompensasi atas serangan militer yang mereka alami.

China disebut telah berperan di balik layar dalam mendorong gencatan senjata ini, yang meningkatkan posisi diplomatik Beijing dalam persaingan dengan Washington. China bisa menjadi kunci solusi dengan mengambil alih uranium Iran yang diperkaya tinggi, sehingga mengurangi risiko pengembangan senjata nuklir.

Peran China sebagai Mediator

Sebagai mediator potensial, China dapat menawarkan kerangka kerja baru terkait program nuklir Iran dan mengaitkannya dengan investasi yang dibutuhkan oleh Teheran. Peluang China sebagai mediator cukup besar jika AS dan Iran sama-sama ingin meredakan ketegangan, menurut observasi Henry Huiyao Wang.

Namun, peran China dalam konflik ini tidaklah tanpa risiko. Beijing perlu mempertimbangkan hubungannya dengan AS agar tidak mengganggu hubungan strategis yang dimilikinya. Konflik Iran juga berdampak pada kepentingan energi China, meskipun China memiliki sumber pasokan alternatif dalam menghadapi resiko ini.

Isu Iran diyakini akan menjadi fokus utama dalam pertemuan antara Trump dan Xi Jinping, disamping isu-isu seperti konflik Ukraina, Taiwan, dan masalah perdagangan serta teknologi.

Source link