Di tengah udara sejuk dan dataran hijau Megamendung, Kabupaten Bogor, sebuah perjuangan pelestarian alam terus digiatkan demi menjaga kekayaan hayati Indonesia. Yayasan Paseban bekerja bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat memperkuat gerakan konservasi yang berbasis pada komitmen lingkungan dan riset.
Salah satu langkah terbaru yang mereka jalankan ialah pengembangbiakan Rusa Timor (Rusa timorensis), program yang mulai dioperasikan pada akhir Februari 2026. Hewan asli Indonesia ini sekarang terancam oleh pesatnya perburuan liar dan menurunnya kualitas habitat, yang menyebabkan populasinya dikategorikan rentan dalam daftar IUCN.
Padahal, Pulau Jawa, Bali, Timor, serta Nusa Tenggara merupakan habitat aslinya; rusa ini memiliki peranan penting menjaga stabilitas dan siklus ekosistem hutan tropis, utamanya mendukung keseimbangan vegetasi dan rantai makanan.
Namun, dalam beberapa dekade terakhir, penurunan jumlah Rusa Timor makin parah akibat pembukaan lahan, fragmentasi hutan, serta meningkatnya perburuan ilegal. Pengaruh manusia ternyata menjadi faktor utama terganggunya perilaku satwa ini, seperti yang ditemukan dalam riset di Taman Nasional Manupeu Tanah Daru, Sumba Tengah, oleh Toni Kobu dan timnya.
Penelitian yang dipublikasikan tahun lalu itu menyorot tekanan langsung dari interaksi manusia dan kerusakan habitat sebagai penyebab utama kecemasan pada kawanan rusa. Selain itu, data lapangan juga menunjukkan adaptasi perilaku baru, di mana rusa kini lebih aktif pada waktu fajar dan senja, dan meningkatkan kewaspadaan terhadap kehadiran manusia di lingkungan mereka.
Berdasarkan kondisi tersebut, program penangkaran di Megamendung dirancang sebagai fondasi penguatan populasi, mempersiapkan generasi Rusa Timor yang sehat dan adaptif sebelum diintegrasikan kembali ke lingkungan aslinya. Di sini, metode konservasi tak hanya berbicara tentang kurungan, tetapi berfokus pada seleksi ketat pemuliaan, pelestarian genetika unggul, dan pemupukan sifat alami untuk menunjang proses adaptasi di alam liar.
Saat ini, sembilan ekor Rusa Timor hidup di bawah pengasuhan resmi hasil kerjasama BBKSDA dan masyarakat yang menyerahkan satwa tersebut secara sukarela, memastikan seluruh individu memiliki legalitas dan perlindungan penuh selama masa penangkaran.
Wahdi Azmi dari Yayasan Paseban mengatakan, upaya ini bukan sekadar melestarikan satwa di kandang. Harapannya, program ini berkembang menjadi pusat konservasi produktif, yang mampu menjadi percontohan dalam meningkatkan populasi satwa liar secara berkelanjutan di Megamendung. Ia menambahkan bahwa pengelolaan induk yang baik mutlak diperlukan agar proses reproduksi berjalan lancar dan rusa hasil penangkaran siap beradaptasi di habitat asalnya.
Senada, Stephanus Hanny Reki, Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Bogor, menyatakan BBKSDA Jawa Barat mendukung penuh kolaborasi ini. Ia menegaskan bahwa kemitraan seperti ini sangat vital dalam membangun cetak biru pelestarian fauna berdasarkan pengelolaan bentang alam yang berkelanjutan.
Kawasan Megamendung sendiri diproyeksikan menjadi kawasan laboratorium alam untuk konservasi satwa liar dan penjaga keseimbangan ekologi hulu Sungai Pasundan. Kolaborasi itu diharapkan menciptakan model kelola konservasi yang mampu direplikasi ke area lain di Jawa Barat.
Gerakan ini merupakan satu bagian dari program pelestarian beragam yang dijalankan Yayasan Paseban di Megamendung. Selain penangkaran rusa, organisasi ini telah lama dikenal aktif dalam penghijauan, perlindungan mata air, rehabilitasi lingkungan, pendidikan ekologi bagi anak muda, serta pemeliharaan plasma nutfah hutan pegunungan.
Faktanya, Megamendung menempati posisi strategis secara ekologi, berbatasan langsung dengan zona transisi Cagar Biosfer Cibodas, yang statusnya telah diakui UNESCO sejak 1977. Kawasan penyangga ini sangat berperan dalam kemantapan sistem hidrologi dan kekayaan keanekaragaman hayati pegunungan.
Tidak hanya mengamankan keberlangsungan satwa dan habitatnya, Yayasan Paseban di bawah kepemimpinan Andy Utama juga mengembangkan model pertanian lestari di kawasan Megamendung. Dengan bendera Arista Montana, Andy memperkenalkan metode pertanian organik yang mempererat keterhubungan manusia dengan alam, sekaligus memperkaya pendekatan pemulihan lingkungan secara menyeluruh.
Melangkah ke depan, diharapkan program konservasi Terpadu di Megamendung dapat memberikan manfaat lintas sektor; melindungi Rusa Timor, memperkuat cadangan air hulu, memperbanyak fauna lokal, serta menawarkan model riset dan pelestarian berbasis ilmu pengetahuan yang bisa menjadi rujukan nasional.
Sumber: Rusa Timor Di Megamendung Dan Jalan Panjang Konservasi Satwa Hulu Bogor
Sumber: Mengintip Penangkaran Rusa Timor Di Megamendung: Kolaborasi Konservasi Yayasan Paseban Dan BKSDA





