Potensi Kerja Sama RI dan Jepang dalam Garapan Harta Karun Langka

by

Indonesia Bergarap Zeaar Looam Tanah Jarang Bersama Jepang

Indonesian Mining Institute (IMI) mengungkapkan potensi kerja sama antara Indonesia dan Jepang dalam pengembangan Logam Tanah Jarang (LTJ). Chairm IMI, Irwandy Arif, membocorkan bahwa pembahasan kerja sama ini telah terjadi dalam pertemuan dengan Kepala Badan Industri Mineral (BIM), Brian Yuliarto.

Peluang Kerja Sama PT Timah dengan Perusahaan Luar Negeri

PT Timah sebelumnya telah bermitra dengan perusahaan luar negeri untuk pengolahan monasit guna memproduksi LTJ, Uranium, dan Torium. Namun, kesepakatan nyata belum tercapai hingga saat ini. Di sisi lain, Indonesia memiliki potensi LTJ yang tersebar di berbagai wilayah.

Mineral LTJ di Indonesia

Mineral LTJ sering ditemukan sebagai mineral ikutan dari tambang timah aluvial, laterit nikel, residu bauksit, dan abu batu bara. Di antara mineral utama berpengandungan LTJ di Indonesia adalah monasit di Bangka Belitung, xenotim, dan zirkon. Wilayah Mamuju, Sulawesi Barat, menarik perhatian karena memiliki kandungan mineral logam tanah jarang primer.

Penjelasan tentang LTJ

Irwandy menjelaskan bahwa LTJ adalah kumpulan dari 17 unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki sifat magnetik dan kimia yang unik. Unsur tersebut dibagi menjadi logam tanah jarang ringan dan berat seperti skandium, yttrium, lantanum, dan lainnya. Kandungan LTJ di Indonesia umumnya ditemukan sebagai mineral ikutan dari penambangan komoditas lain seperti timah, nikel, dan bauksit. Namun, penemuan baru di Mamuju mengindikasikan adanya kandungan LTJ primer dengan kadar yang jauh lebih tinggi. Hal ini membuka peluang bagi Indonesia untuk membangun industri pengolahan mineral tersebut sendiri.

Selain itu, penggunaan LTJ untuk magnet permanen menjadi sektor yang paling penting karena menjadi komponen utama dalam berbagai industri, terutama dalam pengembangan kendaraan listrik dan teknologi energi terbarukan.

Source link