Ancaman Trump terhadap Chevron-ExxonMobil: Penjelasan Lengkap

by

Trump Sebut Chevron & ExxonMobil Mengeruk Keuntungan Berlebih

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terbuka melontarkan kritik tajam kepada raksasa energi ExxonMobil dan Chevron. Trump menyebut kedua perusahaan tersebut mengeruk terlalu banyak keuntungan dari lonjakan harga minyak mentah yang dipicu oleh perang Iran.

Trump menegaskan bahwa Chevron dan ExxonMobil harus mengembalikan sebagian keuntungannya kepada publik dan menekan harga eceran minyak.

Laba Usaha Chevron & ExxonMobil Meningkat Drastis

Laporan keuangan kuartal kedua yang dirilis menunjukkan lonjakan laba tak terduga bagi Chevron dan ExxonMobil. Pendapatan Chevron melesat hampir 400% menjadi US$ 12,0 miliar (Rp 192,0 triliun) dari 2,5 miliar (Rp 40,0 triliun) pada periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, laba ExxonMobil juga meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi US$ 14,5 miliar (Rp 232,0 triliun) dari sebelumnya US$ 7,1 miliar (Rp 113,6 triliun).

Harga Minyak Mentah AS Melonjak Sejak Serangan ke Iran

Harga minyak mentah AS melonjak sekitar 20% sejak AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari. Hal ini membuat harga minyak mencapai US$ 92 (Rp 1.472.000) per barel, menandai kenaikan signifikan.

Di sisi lain, harga bensin eceran di AS mencapai US$ 4,10 (Rp 65.600) per galon secara nasional pada hari Senin, naik hampir 40% dari sebelumnya.

Setelah pernyataan kritik dari Trump, saham Chevron turun sekitar 2%, sementara saham ExxonMobil juga terkoreksi sedikit. Pasar berharap perundingan antara AS dan Iran dapat mengatasi ketegangan yang mempengaruhi pasar minyak global.

Source link