Trump Sesumbar Negara Komunis Ini Jatuh, China Pasang Badan

by

China menyatakan akan membela Kuba dari campur tangan asing setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menggambarkan Havana sebagai negara yang gagal dan memperkirakan pemerintahan di negara kepulauan itu segera runtuh. Pernyataan Beijing disampaikan ketika tekanan ekonomi dan politik Washington terhadap Kuba semakin meningkat.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menyampaikan komitmen tersebut pada Senin, bertepatan dengan peringatan 66 tahun hubungan diplomatik China-Kuba. “China akan mendukung Kuba dalam menjaga kedaulatan nasionalnya dan menempuh jalur pembangunan yang sesuai dengan kondisi nasionalnya,” kata Guo, dikutip Russia Today, Selasa (29/9/2026).

Tekanan AS dan krisis energi Kuba

Dalam pidatonya pada Sidang Majelis Umum PBB pekan lalu, Trump menyebut Kuba sebagai negara yang benar-benar gagal. Ia juga menuduh Kuba menjadi tempat berlindung bagi musuh-musuh asing AS.

Kuba kini menghadapi krisis ekonomi terburuk dalam beberapa dekade. Negara itu mengalami kekurangan bahan bakar dan makanan, pemadaman listrik berkepanjangan, serta persoalan infrastruktur energi yang menua. Kondisi tersebut memburuk setelah pasokan minyak dari Venezuela dan Meksiko terhenti. Kedua negara itu sebelumnya menyumbang sekitar 86% dari total impor minyak mentah Kuba pada tahun lalu.

Pengiriman dari Venezuela dilaporkan berhenti setelah operasi militer AS melengserkan Presiden Nicolas Maduro pada Januari. Sementara itu, Meksiko menangguhkan pasokan minyaknya setelah mendapat ancaman tarif dari Washington.

Tekanan AS menguat setelah Trump kembali menjabat. Melalui perintah eksekutif pada Januari 2026, pemerintahannya menetapkan kebijakan Havana sebagai ancaman luar biasa bagi keamanan nasional. Washington juga menuduh Kuba bersekutu dengan Rusia, China, Iran, Hamas, dan Hizbullah. AS menyatakan kebijakan tersebut ditujukan untuk menangkal ancaman serta mendorong demokrasi dan kebebasan ekonomi.

Kuba menolak tuduhan itu. Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez, dalam sidang PBB pada Sabtu, menuduh Washington menjalankan perang ekonomi multidimensi dan blokade energi untuk memaksakan perubahan politik. “Ini adalah tindakan perang,” ujar Rodriguez.

Dukungan Beijing dan bantuan dari negara lain

Wakil Presiden China Han Zheng juga menyerukan penghentian tekanan terhadap Havana dalam sidang PBB. “Segera berhenti menggunakan ancaman kekerasan terhadap Kuba,” katanya. “Cabut sepenuhnya blokade dan sanksi.” Beijing menempatkan sikap tersebut sebagai bagian dari penolakannya terhadap campur tangan asing dan dukungan terhadap kedaulatan negara-negara berkembang.

Dukungan China tidak hanya berupa pernyataan politik. Beijing telah menyalurkan bantuan pangan darurat, melakukan restrukturisasi utang, serta membiayai dan memasok peralatan tenaga surya. Menurut laporan tersebut, langkah itu meningkatkan porsi listrik terbarukan Kuba dari 2% pada Januari 2025 menjadi 21,4% pada September 2026.

Sebagai imbalannya, Kuba menjadi mitra politik China sekaligus pijakan bagi perluasan infrastruktur dan investasi strategis Beijing di Amerika Latin melalui Inisiatif Sabuk dan Jalan sejak 2018. Havana juga konsisten mendukung posisi China terkait Taiwan, Hong Kong, dan Xinjiang.

Kuba turut menerima dukungan dari sejumlah negara lain. Dalam pemungutan suara Majelis Umum PBB pada Oktober 2025, sebanyak 165 negara mendukung resolusi untuk mengakhiri embargo terhadap Kuba. Tujuh negara menolak dan 12 lainnya abstain. Meksiko mengirimkan ratusan ton makanan, Spanyol menjalankan program konversi utang, sedangkan Uni Eropa menyediakan pendanaan kemanusiaan darurat.

Rusia, yang disebut sebagai salah satu mitra terdekat Kuba, mengirim kapal tanker berisi 730.000 barel minyak mentah pada akhir Maret. Moskow juga menyalurkan bantuan pangan senilai US$18 juta atau sekitar Rp320,4 miliar melalui PBB sepanjang 2018-2025, serta menyiapkan tambahan US$2 juta atau sekitar Rp35,6 miliar untuk tahun ini.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyebut situasi kemanusiaan di Kuba sangat memprihatinkan. Ia mendesak Washington mencabut pembatasan terhadap Havana dan menghapus Kuba dari daftar negara sponsor terorisme.

Source link