**Siswi Kelas 12 Berdayakan 126 Perajin dan Jaga Gambut**

by

Tanaman purun (Lepironia articulata) yang tumbuh alami di lahan basah Kalimantan Selatan kini dikembangkan menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat desa. Melalui Gaia Weave, tanaman yang selama ini identik dengan kerajinan anyaman tradisional itu diolah menjadi produk fungsional untuk kebutuhan modern, sekaligus mendukung upaya menjaga ekosistem gambut dari ancaman kebakaran.

Gaia Weave diinisiasi Alexandra Christy Untono, siswi kelas 12 ACS Jakarta. Ia mengembangkan purun menjadi tech organizer, document pouch, tas, aksesori, hingga merchandise korporasi. Pengembangan produk dilakukan melalui penyesuaian desain, standardisasi mutu, dan penguatan fungsi agar purun dapat menjangkau pasar yang lebih luas.

Purun sebagai sumber penghasilan dan insentif ekologis

Selama bertahun-tahun, produk purun lebih banyak dipasarkan sebagai kerajinan tradisional dengan nilai tambah dan akses pasar yang terbatas. Padahal, keberadaan tanaman ini berkaitan erat dengan kondisi lahan basah. Gambut yang tetap lembap memiliki risiko kebakaran lebih rendah dibandingkan gambut yang mengering.

Atas dasar itu, Gaia Weave berupaya menghubungkan pelestarian lingkungan dengan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lanskap gambut. “Purun tumbuh subur di lingkungan yang basah dan dengan menciptakan nilai ekonomi dari purun, kami ingin membangun insentif nyata agar masyarakat melihat nilai perlindungan dari ekosistem tempat tanaman ini tumbuh,” kata Alexandra dalam keterangan resmi, Jumat (2/10/2026).

Hingga kini, Gaia Weave telah bermitra dengan 126 perajin perempuan di 15 desa di Kalimantan Selatan. Kemitraan tersebut mencakup produksi berbagai barang berbahan purun, dari tas dan aksesori sampai kebutuhan perusahaan.

Bagi sebagian besar perajin, pendapatan meningkat sekitar 100 hingga 150 persen. Sebelumnya, mereka memperoleh sekitar Rp1 juta-Rp1,5 juta per bulan, kemudian meningkat menjadi sekitar Rp2,7 juta-Rp3 juta per bulan setelah bergabung dalam kemitraan tersebut.

Dampak itu juga dirasakan Ibu Idang. Sebelum menganyam purun, ia mengandalkan pekerjaan tani musiman dengan penghasilan sekitar Rp40.000-Rp50.000 per hari. Seusai bekerja di sawah, ia kini melanjutkan aktivitas menganyam dari rumah dan memperoleh tambahan sekitar Rp80.000-Rp100.000 per hari.

“Setelah pulang dari sawah, saya lanjutkan menganyam di rumah. Keterampilan yang sudah kami miliki sekarang menjadi tambahan penghasilan nyata, dan anyaman kami digunakan oleh banyak orang,” tutur Ibu Idang.

Menargetkan 1.000 perajin hingga 2030

Alexandra menilai penciptaan nilai ekonomi dari purun merupakan bagian dari penerapan ekonomi sirkular. Menurut dia, penggunaan material yang ramah lingkungan dan dapat terurai bukan satu-satunya ukuran. Keuntungan yang adil bagi orang-orang dalam rantai pasok, terutama perajin desa, juga menjadi fondasi pendekatan tersebut.

“Ekonomi sirkular bukan hanya tentang menggunakan material yang ramah lingkungan atau terurai alami. Fondasi terpentingnya adalah memastikan orang-orang di sepanjang rantai pasok, terutama para perajin di desa, mendapatkan manfaat ekonomi yang adil,” tegas Alexandra.

Pengalaman Alexandra dalam sejumlah proyek keberlanjutan turut membentuk Gaia Weave, termasuk riset pemetaan rumput laut bersama Birufinery di Nusa Tenggara Timur dan jaringan daur ulang EcoFunCycle.

Hingga 2030, Gaia Weave menargetkan membangun jejaring lebih dari 1.000 perajin di Kalimantan Selatan, memperluas pasar ekspor, serta menjalin kemitraan dengan sektor perhotelan premium. Gaia Weave juga menyiapkan sistem ketertelusuran berbasis QR agar konsumen dapat mengetahui asal material dan perjalanan produk yang dibeli.

Source link